Alhamdulillah

Atas segala yang telah terjadi, tiada kata pantas terucap melainkan syukur. Syukur atas karunia-Nya. Syukur atas hidayah-Nya. Syukur atas rangkaian peristiwa penuh makna, rentetan mutiara hikmah, pelajaran, peringatan dan pengingatan bagi hati hati yang lupa. Sungguh tiada satu dzarrah partikel tercipta dengan kesiasiaan, pun tiada momen berlangsung melainkan atas kehendak dan ijin dari Dzat Yang Maha Mengatur. Maha Suci Allah SWT yang telah menganugerahkan Rahmaan dan Rahiim-Nya melalui pelbagai cara – kesemuanya menjadi Tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran-Nya bagi kaum yang berpikir.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim 7)

Deadline

Sebagian dari Anda mungkin berpendapat bahwa berada dalam tekanan (underpressure) sungguh tidak menyenangkan. Menggelisahkan. Aktivitas yang semestinya berlangsung dengan baik – bila dilakukan pada kondisi normal – justru jauh dari perkiraan. Ambil contoh kecil: sepakbola.

Dalam latihan, setiap pemain tentu dapat menendang bola dengan baik. Tendangan bebas yang dilakukan dari luar kotak pinalti pun dapat dengan leluasa masuk ke gawang lawan. Lain halnya dalam pertandingan, terutama pertandingan resmi. Tendangan seorang Steven Gerrard pun terkadang meleset jauh dari tiang gawang yang dijaga oleh Peter Cech, jikalau pada saat itu John Terry menempel ketat dan Ashley Cole menghalangi pandangan ke mulut gawang. Belum lagi dukungan publik The Blues yang memadati stadion Stamford Bridge turut menyumbang tekanan bagi setiap pemain The Reds, pun skor berpihak pada tim lawan dan pertandingan telah memasuki “injury time”. OK lah, pembicaraan tentang sepakbola cukup sampai di sini, mengingat Anda cukup cerdas untuk menangkap maksud pembicaraan saya barusan, he he he.

Saudara pembaca, sebangsa dan setanah air,

Tekanan yang dialami dapat berupa aktivitas apapun yang dirasa melebihi kemampuan – baik dalam hal jumlah maupun tingkat kesulitan, sumber daya pendukung yang tidak mencukupi maupun waktu luang, hah, mana pernah ada waktu luang yang bener-bener luang. Dan, ujung-ujungnya kita akan dihadapkan pada dua kata istimewa: tenggat waktu, namun saya lebih suka menyebut deadline.

Deadline terkadang disalahtafsirkan (atau disalahtuliskan) sebagai dateline, garis tanggal, yaitu tanggal yang menjadi garis (batas), dan saya pun tertawa ketika menemui fenomena ini. Kemudian tawa saya pun lebih memingkal lagi ketika kata dateline itu dimunculkan oleh (cukup) banyak orang dengan “mantap” serta berulang ha ha ha.

Dari definisi yang saya pahami, deadline bisa diartikan sebagai garis mati, yakni batas di mana sebuah aktivitas hanya berlaku hingga batas tersebut. Lewat dari garis itu (dalam konteks waktu), aktivitas tersebut dianggap mati dan tidak berarti apa-apa, terlepas dari tingkat kesempurnaan dalam pelaksanaannya. Sebagai ilustrasi kecil: ujian akhir di kampus.

Setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah tugas akhir tentunya dihadapkan pada ujian akhir semester. Pelaksanaan tugas akhir tentunya mempunyai termin waktu, misal dimulai bulan Maret dengan lama waktu pengerjaan maksimal 8 bulan. Di sini, deadline pengumpulan naskah pendadaran adalah bulan Oktober. Terlepas dari kebijakan kampus yang memberi nilai maksimal C untuk penyelesaian tugas akhir setelah bulan Oktober, pada dasarnya pada bulan November tugas akhir yang dikerjakan tersebut tidak berarti apa-apa (dalam konteks keabsahan) dan harus diulang dari awal. Sesederhana itu.

Pada masa-masa pengerjaan ujian akhir, mahasiswa terkadang dininabobokkan oleh waktu yang masih panjang beserta jadwal yang tidak terlalu padat. Lambat laun waktu berjalan, hingga tak sadar waktu yang disediakan segera berakhir. Mendekati deadline, seringkali rasio dan hati tak dapat bekerja optimal. Suatu aktivitas yang biasanya bisa dikerjakan dengan baik (bahkan nyaris sempurna) dalam waktu singkat ternyata baru bisa dinyatakan selesai setelah memakan waktu relatif lebih lama, pun dengan kualitas standar: sekedar menggugurkan kewajiban. Namun, dibalik arus utama yang menyatakan demikian, pada kondisi menjelang deadline justru hal luar biasa terjadi. Hal luar biasa? Ya, dengan percaya diri saya bisa mengatakan demikian.

Dalam keadaan tertekan (salah satunya dialami ketika menghadapi deadline), manusia secara tidak sadar mengeluarkan insting-naluri alamiahnya. Naluri untuk mempertahankan hidup (hal samai juga terjadi pada binatang) muncul dan mendominasi. Dalam konteks ini, niat untuk bertahan dan menyelesaikan pekerjaan apapun meningkat ke level tertinggi. Inner power – kekuatan internal dalam diri dengan kualitas/kuantitas maksimal, kekuatan yang biasanya tidak terlihat pada kondisi normal, akan muncul dengan sendirinya dan bisa jadi membuat yang bersangkutan takjub. Pada akhirnya lahir sebuah pernyataan dalam diri: ternyata saya bisa juga seperti ini, ya?

Nah, dibalik fenomena deadline ini, sebuah pertanyaan sederhana muncul dan menggelitik batin saya, apakah fenomena deadline ini merupakan anugerah atau (justru) musibah? Dan apakah kemampuan-performa terbaik hanya bisa muncul ketika berhadapan dengan deadline?

Well, apapun yang terjadi, the show must go on.

Hikmah

Segala puja dan puji hanyalah untuk Rabb Pencipta alam raya.

Pernahkan Anda mengalami kondisi yang biasa disebut “bad mood”. Jika ya, selamat, selamat karena Anda termasuk pribadi normal. Saya pun demikian, seperti halnya yang baru saja terjadi sesaat lalu.

Sebenarnya bukan tulisan ini yang rencananya saya buat pagi tadi, melainkan hal lain – lanjutan dari pembahasan sehari sebelumnya. Namun demikian, ada satu topik yang ingin saya angkat kali ini, yakni – sebagaimana saya utarakan di bagian awal – berkaitan dengan “feeling” manusiawi: “bad mood”.

Tidak disadari sebelumnya, kejadian ini bermula semenjak dini hari tadi. Jika boleh berkata (lebih) jujur, huff, semalam saya merasa susah tidur. Sebagian orang (lebih suka) menyebutnya imsomnia. Aneh memang, mengingat selama 1 jam selepas Isya’ saya bermain futsal dengan beberapa rekan, lalu menyantap hidangan dengan porsi lumayan besar serta mengenyangkan. Terlepas dari cedera yang saya alami selama pertandingan, sangat masuk di akal jika saya katakan seharusnya rasa kantuk hinggap di badan ketika tiba di rumah pada pukul 10 malam. Aneh memang, barulah saya terlelap tidur hampir satu jam lewat tengah malam. ZZzzzzz.

Pagi hari, dalam kondisi mata masih “10 Watt” dan perut keroncongan, saya berniat memasak telur sebagai lauk sarapan, telur rebus. Astaganaga, nasi di “Rice Cooker” habis dan jam telah menunjuk pukul 06.45 – fiuhh. Lalu saya putuskan untuk makan pagi dengan menu telur rebus ditemani kombinasi susu-coklat-tomat, meski kemudian saya menyadari bahwa saat ini 2 telur rebus tadi masih utuh dan berada di atas kompor, ha ha ha.

Lanjut ke pukul 10.30 pagi, perut makin meronta dan kantuk makin meradang. Menu makan siang favorit (gado-gado) hadir beberapa saat menjelang Dhuhur, namun tidak “exactly the same” dengan yang saya inginkan, meski kemudian saya makan juga he he he. Dan, untuk mengatasi rasa lapar yang masih ada beserta keinginan untuk sejenak merebahkan badan, saya pun kembali ke rumah – disertai keinginan untuk mampir ke sebuah tempat makan.

Cuaca makin tak bersahabat, angin menderu, menerbangkan dedaunan dan debu. Sebagian dari mereka menyapu wajah, pun mata harus merem-melek sembari tetap memperhatikan jalan. Alhasil, saya tiba di rumah tanpa membawa makanan tambahan, dengan harapan telur rebus beserta susu coklat cukup untuk mengganjal sistem pencernaan. Singkat cerita, saya tiba di rumah dan mengetahui bahwa pintu dalam keadaan terkunci. Ternyata kunci (beserta sang pembawa) ga pulang, haiyaaa, asumsi saya keliru ternyata. Setelah menunggu beberapa saat, saya memutuskan untuk kembali ke tempat di mana saya berada, ditemani dengan hujan deras yang menghujam, dingin, basah.

Tulisan ini selesai saya buat menjelang pukul 1 siang. Tidak (jadi) makan (lagi), pun mengorbankan waktu istirahat. Namun saya yakin, yakin dengan seyakin-yakinnya, semua ini ada hikmahnya, dan saya tahu itu.

Menurut Anda?

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. 7 : 23)

Pusing

Setiap pembaca judul di atas mungkin tergelitik, lalu menebak-nebak apa yang ingin saya tulis kali ini. Tenang tenang, saya tidak akan curhat mengenai apa yang ada di hati & pikiran saya saat ini. Namun, meski demikian, perlu saya tegaskan bahwa semua orang berhak untuk itu, setiap orang berhak untuk merasa pusing, “absolutely”. Karena pusing itu manusiawi, dan jika ada individu yang mengaku belum pernah mengalami hal itu maka bisa dipastikan kalau dia bukan manusia, ha ha ha.

Pusing yang saya maksud kali ini lebih karena kondisi fisik. Seminggu terakhir terjadi pelanggaran atas “pantangan” yang selama ini saya anut: makan cabe, merica, saos, beserta pelbagai jenis makanan lain yang dapat mengacaukan sistem pencernaan. Tidak lain tidak bukan, “peningkatan” selera (nafsu-red.) makan telah mengalahkan anjuran dokter & nasehat Mama. Pun sebuah logika sederhana dipungkiri, dan sensitivitas perut pun telah membuktikannya.

Slurry. Satu kata ini tampaknya dapat mengungkapkannya. Dan – alhamdulillah – tingkat keparahan salah satu kenikmatan hidup ini belum (dan semoga saja tidak) mencapai level mengkhawatirkan, dimana “emergency blowdown” harus dilaksanakan. Maka dari itu, untuk mencegah hal-hal yang diinginkan oleh sebagian pihak, aksi pencegahan mutlak dilaksanakan.

Berbicara mengenai “preventive action” takkan lepas dari topik makanan. Termasuk diantaranya sayuran kaya serat yang terdapat pada komposisi lauk-pauk favorit saat ini: lotek

Jikalau Anda tidak “familiar” dengan nama ini, pasti anda tahu (atau setidaknya pernah mendengar) gado-gado, iya khan? Nah, yang saya maksud dengan lotek di sini “exactly the same thing” ama gado-gado yang Anda kenal tersebut. Namun, di daerah kelahiran saya, Jogja – tepatnya di kampung Kauman, yang disebut dengan gado-gado tu “completely different” ama lotek. Dan (ternyata) saya lebih suka lotek, he he he.

Sudah pernah maem gado-gado khas Jogja kah?

Mukadimah

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Beberapa saat saya termenung dan terpana sendiri, entah kenapa, satu demi satu kejadian menghinggapi. Ada kisah bahagia, cerita mengharukan, kepingan-kepingan menyedihkan, pun tak ketinggalan alunan irama nan merdu namun menghanyutkan alam pikiran. Tak perlu waktu lama tuk memutuskan: (kali ini) takkan saya biarkan berlalu begitu saja tanpa dokumentasi berarti yang kan menjadi kenangan (serta sebagai wahana introspeksi) di tahapan kehidupan selanjutnya.

Tak terhitung waktu untuk memulainya, ya, untuk mulai membuat rangkaian catatan perjalanan ini. Tak teringat pula sekian kali saya membuat “bagian awal” yang tak berlanjut: “I am Back”, “Pertama”, atau pelbagai kalimat sejenis yang menandakan semangat untuk menulis lagi. Siapapun yang (merasa) mengenal & menyimak sepecah mosaik kehidupan saya mungkin tahu, dan saya pun menyadari sepenuhnya hal ini: ternyata yang saya lakukan di masa lalu tidak cukup. Sangat tidak cukup. Dan, akhirnya saya benar-benar menyadari bahwa hal terberat dalam memulai segala sesuatu adalah pada permulaannya, dan untuk memulai satu langkah yang besar dimulai dari langkah kecil yang sederhana. Selanjutnya, saya pun menyadari sepenuhnya bahwa untuk menggapai suatu hal yang baru diperlukan cara yang baru pula, dan ini berarti (harus ada) perubahan. Ya, perubahan, perubahan menuju arah yang lebih baik tentunya.

Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati – telah lahir (kembali) sebuah tekad bulat untuk memulai sesuatu yang baru, dengan semangat baru, bentuk dan format baru, berbekal niat tulus ikhlas demi mengharap ridho Ilahi, blog ini saya namakan: “Hijrah”