Segala puja dan puji hanyalah untuk Rabb Pencipta alam raya.
Pernahkan Anda mengalami kondisi yang biasa disebut “bad mood”. Jika ya, selamat, selamat karena Anda termasuk pribadi normal. Saya pun demikian, seperti halnya yang baru saja terjadi sesaat lalu.
Sebenarnya bukan tulisan ini yang rencananya saya buat pagi tadi, melainkan hal lain – lanjutan dari pembahasan sehari sebelumnya. Namun demikian, ada satu topik yang ingin saya angkat kali ini, yakni – sebagaimana saya utarakan di bagian awal – berkaitan dengan “feeling” manusiawi: “bad mood”.
Tidak disadari sebelumnya, kejadian ini bermula semenjak dini hari tadi. Jika boleh berkata (lebih) jujur, huff, semalam saya merasa susah tidur. Sebagian orang (lebih suka) menyebutnya imsomnia. Aneh memang, mengingat selama 1 jam selepas Isya’ saya bermain futsal dengan beberapa rekan, lalu menyantap hidangan dengan porsi lumayan besar serta mengenyangkan. Terlepas dari cedera yang saya alami selama pertandingan, sangat masuk di akal jika saya katakan seharusnya rasa kantuk hinggap di badan ketika tiba di rumah pada pukul 10 malam. Aneh memang, barulah saya terlelap tidur hampir satu jam lewat tengah malam. ZZzzzzz.
Pagi hari, dalam kondisi mata masih “10 Watt” dan perut keroncongan, saya berniat memasak telur sebagai lauk sarapan, telur rebus. Astaganaga, nasi di “Rice Cooker” habis dan jam telah menunjuk pukul 06.45 – fiuhh. Lalu saya putuskan untuk makan pagi dengan menu telur rebus ditemani kombinasi susu-coklat-tomat, meski kemudian saya menyadari bahwa saat ini 2 telur rebus tadi masih utuh dan berada di atas kompor, ha ha ha.
Lanjut ke pukul 10.30 pagi, perut makin meronta dan kantuk makin meradang. Menu makan siang favorit (gado-gado) hadir beberapa saat menjelang Dhuhur, namun tidak “exactly the same” dengan yang saya inginkan, meski kemudian saya makan juga he he he. Dan, untuk mengatasi rasa lapar yang masih ada beserta keinginan untuk sejenak merebahkan badan, saya pun kembali ke rumah – disertai keinginan untuk mampir ke sebuah tempat makan.
Cuaca makin tak bersahabat, angin menderu, menerbangkan dedaunan dan debu. Sebagian dari mereka menyapu wajah, pun mata harus merem-melek sembari tetap memperhatikan jalan. Alhasil, saya tiba di rumah tanpa membawa makanan tambahan, dengan harapan telur rebus beserta susu coklat cukup untuk mengganjal sistem pencernaan. Singkat cerita, saya tiba di rumah dan mengetahui bahwa pintu dalam keadaan terkunci. Ternyata kunci (beserta sang pembawa) ga pulang, haiyaaa, asumsi saya keliru ternyata. Setelah menunggu beberapa saat, saya memutuskan untuk kembali ke tempat di mana saya berada, ditemani dengan hujan deras yang menghujam, dingin, basah.
Tulisan ini selesai saya buat menjelang pukul 1 siang. Tidak (jadi) makan (lagi), pun mengorbankan waktu istirahat. Namun saya yakin, yakin dengan seyakin-yakinnya, semua ini ada hikmahnya, dan saya tahu itu.
Menurut Anda?
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. 7 : 23)
