Setiap pembaca judul di atas mungkin tergelitik, lalu menebak-nebak apa yang ingin saya tulis kali ini. Tenang tenang, saya tidak akan curhat mengenai apa yang ada di hati & pikiran saya saat ini. Namun, meski demikian, perlu saya tegaskan bahwa semua orang berhak untuk itu, setiap orang berhak untuk merasa pusing, “absolutely”. Karena pusing itu manusiawi, dan jika ada individu yang mengaku belum pernah mengalami hal itu maka bisa dipastikan kalau dia bukan manusia, ha ha ha.
Pusing yang saya maksud kali ini lebih karena kondisi fisik. Seminggu terakhir terjadi pelanggaran atas “pantangan” yang selama ini saya anut: makan cabe, merica, saos, beserta pelbagai jenis makanan lain yang dapat mengacaukan sistem pencernaan. Tidak lain tidak bukan, “peningkatan” selera (nafsu-red.) makan telah mengalahkan anjuran dokter & nasehat Mama. Pun sebuah logika sederhana dipungkiri, dan sensitivitas perut pun telah membuktikannya.
Slurry. Satu kata ini tampaknya dapat mengungkapkannya. Dan – alhamdulillah – tingkat keparahan salah satu kenikmatan hidup ini belum (dan semoga saja tidak) mencapai level mengkhawatirkan, dimana “emergency blowdown” harus dilaksanakan. Maka dari itu, untuk mencegah hal-hal yang diinginkan oleh sebagian pihak, aksi pencegahan mutlak dilaksanakan.
Berbicara mengenai “preventive action” takkan lepas dari topik makanan. Termasuk diantaranya sayuran kaya serat yang terdapat pada komposisi lauk-pauk favorit saat ini: lotek
Jikalau Anda tidak “familiar” dengan nama ini, pasti anda tahu (atau setidaknya pernah mendengar) gado-gado, iya khan? Nah, yang saya maksud dengan lotek di sini “exactly the same thing” ama gado-gado yang Anda kenal tersebut. Namun, di daerah kelahiran saya, Jogja – tepatnya di kampung Kauman, yang disebut dengan gado-gado tu “completely different” ama lotek. Dan (ternyata) saya lebih suka lotek, he he he.
Sudah pernah maem gado-gado khas Jogja kah?
