Deadline

Sebagian dari Anda mungkin berpendapat bahwa berada dalam tekanan (underpressure) sungguh tidak menyenangkan. Menggelisahkan. Aktivitas yang semestinya berlangsung dengan baik – bila dilakukan pada kondisi normal – justru jauh dari perkiraan. Ambil contoh kecil: sepakbola.

Dalam latihan, setiap pemain tentu dapat menendang bola dengan baik. Tendangan bebas yang dilakukan dari luar kotak pinalti pun dapat dengan leluasa masuk ke gawang lawan. Lain halnya dalam pertandingan, terutama pertandingan resmi. Tendangan seorang Steven Gerrard pun terkadang meleset jauh dari tiang gawang yang dijaga oleh Peter Cech, jikalau pada saat itu John Terry menempel ketat dan Ashley Cole menghalangi pandangan ke mulut gawang. Belum lagi dukungan publik The Blues yang memadati stadion Stamford Bridge turut menyumbang tekanan bagi setiap pemain The Reds, pun skor berpihak pada tim lawan dan pertandingan telah memasuki “injury time”. OK lah, pembicaraan tentang sepakbola cukup sampai di sini, mengingat Anda cukup cerdas untuk menangkap maksud pembicaraan saya barusan, he he he.

Saudara pembaca, sebangsa dan setanah air,

Tekanan yang dialami dapat berupa aktivitas apapun yang dirasa melebihi kemampuan – baik dalam hal jumlah maupun tingkat kesulitan, sumber daya pendukung yang tidak mencukupi maupun waktu luang, hah, mana pernah ada waktu luang yang bener-bener luang. Dan, ujung-ujungnya kita akan dihadapkan pada dua kata istimewa: tenggat waktu, namun saya lebih suka menyebut deadline.

Deadline terkadang disalahtafsirkan (atau disalahtuliskan) sebagai dateline, garis tanggal, yaitu tanggal yang menjadi garis (batas), dan saya pun tertawa ketika menemui fenomena ini. Kemudian tawa saya pun lebih memingkal lagi ketika kata dateline itu dimunculkan oleh (cukup) banyak orang dengan “mantap” serta berulang ha ha ha.

Dari definisi yang saya pahami, deadline bisa diartikan sebagai garis mati, yakni batas di mana sebuah aktivitas hanya berlaku hingga batas tersebut. Lewat dari garis itu (dalam konteks waktu), aktivitas tersebut dianggap mati dan tidak berarti apa-apa, terlepas dari tingkat kesempurnaan dalam pelaksanaannya. Sebagai ilustrasi kecil: ujian akhir di kampus.

Setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah tugas akhir tentunya dihadapkan pada ujian akhir semester. Pelaksanaan tugas akhir tentunya mempunyai termin waktu, misal dimulai bulan Maret dengan lama waktu pengerjaan maksimal 8 bulan. Di sini, deadline pengumpulan naskah pendadaran adalah bulan Oktober. Terlepas dari kebijakan kampus yang memberi nilai maksimal C untuk penyelesaian tugas akhir setelah bulan Oktober, pada dasarnya pada bulan November tugas akhir yang dikerjakan tersebut tidak berarti apa-apa (dalam konteks keabsahan) dan harus diulang dari awal. Sesederhana itu.

Pada masa-masa pengerjaan ujian akhir, mahasiswa terkadang dininabobokkan oleh waktu yang masih panjang beserta jadwal yang tidak terlalu padat. Lambat laun waktu berjalan, hingga tak sadar waktu yang disediakan segera berakhir. Mendekati deadline, seringkali rasio dan hati tak dapat bekerja optimal. Suatu aktivitas yang biasanya bisa dikerjakan dengan baik (bahkan nyaris sempurna) dalam waktu singkat ternyata baru bisa dinyatakan selesai setelah memakan waktu relatif lebih lama, pun dengan kualitas standar: sekedar menggugurkan kewajiban. Namun, dibalik arus utama yang menyatakan demikian, pada kondisi menjelang deadline justru hal luar biasa terjadi. Hal luar biasa? Ya, dengan percaya diri saya bisa mengatakan demikian.

Dalam keadaan tertekan (salah satunya dialami ketika menghadapi deadline), manusia secara tidak sadar mengeluarkan insting-naluri alamiahnya. Naluri untuk mempertahankan hidup (hal samai juga terjadi pada binatang) muncul dan mendominasi. Dalam konteks ini, niat untuk bertahan dan menyelesaikan pekerjaan apapun meningkat ke level tertinggi. Inner power – kekuatan internal dalam diri dengan kualitas/kuantitas maksimal, kekuatan yang biasanya tidak terlihat pada kondisi normal, akan muncul dengan sendirinya dan bisa jadi membuat yang bersangkutan takjub. Pada akhirnya lahir sebuah pernyataan dalam diri: ternyata saya bisa juga seperti ini, ya?

Nah, dibalik fenomena deadline ini, sebuah pertanyaan sederhana muncul dan menggelitik batin saya, apakah fenomena deadline ini merupakan anugerah atau (justru) musibah? Dan apakah kemampuan-performa terbaik hanya bisa muncul ketika berhadapan dengan deadline?

Well, apapun yang terjadi, the show must go on.

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>